1
Pelaku Teror Surabaya dan Sidoarjo Anaknya Tidak Disekolahkan 

Salah satu hal paling mengejutkan soal rentetan teror bom Surabaya, adalah terlibatnya keluarga. 


Para teroris ini mengajak anak-anaknya untuk melakukan aksi teror baik di Gereja maupun Markas Polisi.

Menurut Kapolda Jawa Timur, Irjen Machfud Arifin, anak-anak pelaku teror bom Surabaya tidak disekolahkan. 

"Mereka ngakunya home schooling, tetapi tidak. Mereka hanya menerima doktrin-doktrin dari orangtuanya, dengan video-videonya, dengan ajaran-ajaran yang diberikan," kata Machfud Arifin di Polda Jawa Timur.

Saat ini, ada empat anak yatim piatu yang ditinggalkan orangtuanya usai melakukan aksi bom bunuh diri. Tiga di antaranya adalah anak dari Anton Febriyanto. Mereka selamat dari ledakan bom di Rusunawa Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Masing-masing berinisial AR (15), FP (11) dan GA (10). Ketiganya mengalami luka akibat ledakan itu.

Kapolda mengatakan orangtua mereka atau pelaku teror mengajari anak mereka untuk menjawab home schooling ketika ditanya masyarakat. Anak-anak itu tidak disekolahkan agar dapat didoktrin dengan video-video radikal dan tidak berinteraksi dengan masyarakat lain.

"Baik yang Ais dan di Sidoarjo itu tidak sekolah. Ini sama karena satu guru yang pengajiannya sama dalam satu minggu. Ada keterkaitan. Namun, ada satu yang sekolah. Dia anak yang besar karena ikut neneknya. Kedua anak lain sering dicekoki film," ujarnya.

Machfud ( KEPALA Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin ) mengungkapkan, kondisi anak-anak itu sudah membaik. Yang tiga sudah bisa berinteraksi tinggal satu yakni anak yang terlempar dalam peristiwa bom di Polrestabes Surabaya yang masih dalam pengaruh obat bius.

Anak ini akan diberikan kepada keluarganya karena ini tanggung jawab mereka setelah orang tuanya tidak ada.

Post a Comment

 
Top